| Ini dia spesial buwat agan-agan yang pengen jadi diplomat atawa penata keuangan and petugas komunikasi, silahkan disimak lowongan dari kemenlu berikut. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia membuka kesempatan kepada Warga Negara Indonesia pria dan wanita yang memiliki integritas dan komitmen tinggi untuk menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Golongan III dan II untuk dididik menjadi Pejabat Dinas Luar Negeri (PDLN) yang akan ditugaskan di lingkungan Kementerian Luar Negeri RI dan Perwakilan RI di Luar Negeri. situs resmi pendaftaran di https://e-cpns.kemlu.go.id/ dan Info selengkapnya silahkan klik link ini: CPNS Kemenlu 2013 | |||||||||
| Rincian Jabatan dan Jumlah Formasi | |||||||||
| 1 | Pejabat Diplomatik dan Konsuler (Diplomat/PDK) | ||||||||
| Lulusan Sarjana (S-1), Master/Magister (S-2) atau Doktor (S-3) sejumlah 71 orang untuk menjadi CPNS Golongan III dan dididik menjadi Pejabat Diplomatik dan Konsuler (PDK/Diplomat) selama kurang lebih 8 (delapan) bulan pada Sekolah Dinas Luar Negeri (SEKDILU) di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri RI. | |||||||||
| Uraian Kerja : | |||||||||
| Pejabat Diplomatik dan Konsuler (PDK/Diplomat) melaksanakan tugas dan fungsi mewakili negara dan pemerintah Indonesia (representing), melakukan perundingan untuk dan atas nama kepentingan nasional (negotiating), melindungi kepentingan negara dan pemerintah, warga negara, dan Badan Hukum Indonesia (protecting), membangung jejaring dan kerja sama untuk memajukan hubungan kedua negara/pihak (promoting) dan melakukan pelaporan pelaksanaan tugas dan pengamatan di bidang politik, keamanan, ekonomi, sosial dan budaya (reporting). Tugas-tugas tersebut dilaksanakan di Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI di luar negeri. | |||||||||
| 2 | Penata Keuangan dan Kerumahtanggaan Perwakilan (PKKRT) | ||||||||
| Lulusan Sarjana (S-1) sejumlah 60 orang untuk menjadi CPNS Golongan III dan dididik menjadi Penata Keuangan dan Kerumahtanggaan Perwakilan (PKKRT) selama kurang lebih 7 (tujuh) bulan pada Diklat PKKRT di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri RI | |||||||||
| Uraian Kerja : | |||||||||
| Penata Keuangan dan Kerumahtanggaan Perwakilan (PKKRT) adalah staf non-diplomatik yang melaksanakan tugas dan fungsi di bidang administrasi, keuangan, kepegawaian, perlengkapan dan kerumahtanggaan pada Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI di luar negeri. | |||||||||
| 3 | Petugas Komunikasi (PK) | ||||||||
| Lulusan Diploma 3 (D-3) sejumlah 27 orang untuk menjadi CPNS Golongan II dan dididik menjadi Petugas Komunikasi (PK) selama kurang lebih 7 (tujuh) bulan pada Diklat PK di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri RI. | |||||||||
| Uraian Kerja | |||||||||
| Petugas Komunikasi (PK) adalah staf non-diplomatik yang membantu pelaksanaan tugas dan fungsi di bidang pengelolaan teknologi informasi, komunikasi, persandian, pengamanan, pengawasan dan pengendalian pemberitaan pada Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI di luar negeri. | |||||||||
Selasa, 03 September 2013
0
Lowongan CPNS Kementrian Luar Negeri Tahun 2013
Minggu, 14 Juli 2013
Lowongan JNE
- Public Relation
- Finance
- Kesekretariatan
- Akuntansi
- Manajemen
- Psikologi
- Perpajakan
- Desain Komunikasi Visual
- Hukum
- Marketing
- Administrasi Niaga
- Informasi Tekhnologi
- Teknik Komputer
- Manajemen Informatika
- Teknik Industri
Penempatan lowongan pekerjaan ini di DKI Jakarta. nah bagi agan-agan yang berminat bisa
mengirimkan CV dan lamaran ke:
media.talent@jne.co.id
Contact person: Ibu Shenta - Unit Media Relation
Gedung HC JNE
Komp. Pusat Niaga Roxy
Jl. Biak No. 62 A - Jakarta
atau silahkan kunjungi web JNE untuk mendapatkan informasi lebih seputar lowongan kerja ini
http://www.jne.co.id
Closing Date: 30 Juli 2013
Rabu, 04 Juli 2012
Definisi Birokrasi Menurut Para Ahli
Wuih gila, kemaren kita udah bahas tentang patologi birokrasi juga tentang ruanglingkup patologi birokrasi bahkan sampai cara mengatasi patologi birokrasi, tapi ternyata ane lupa nulis tentang birokrasi itu sendiri. Oke deh, sebelum kita mulai dengan pemaknaan atau pun sebut saja pengertian, yuk kita mulai dengan definisi yang dimiliki oleh para ahli Ilmu Administrasi Negara atau bahasa sononya Public Administration.
Rabu, 06 Juni 2012
Dari Government ke Governance #2
Senin, 04 Juni 2012
Dari Government ke Governance #1
Minggu, 03 Juni 2012
Mengatasi Patologi Birokrasi
Ada penyakit ada pula obatnya. Untuk mengatasi Patologi Birokrasi, seyogyanya seluruh lapisan masyarakat saling bahu-membahu bekerjasama untuk melaksanakan proses pemerintahan bersama dengan sebaik-baiknya. Solusi dari Patologi Birokrasi tidak akan menjadi obat yang mujarab jika seluruh lapisan masyarakat tidak saling mendukung. Hal ini dikarenakan setiap elemen baik dari pemerintah, dunia bisnis, masyarakat kecil, dan pihak swasta memiliki keterkaitan yang sangat erat dalam berjalannya pemerintahan yang baik.
Sabtu, 02 Juni 2012
Kategori dan Ruang Lingkup Patologi Birokrasi
Setelah kita mempelajari pengertian patologi birokrasi, mari kita belajar tentang kategori dan ruang lingkup patologi birokrasi.
Apabila ditelusuri lebih jauh, kategori patologi dalam birokrasi, menurut Sondang P. Siagian, bersumber pada lima masalah pokok. Pertama, persepsi gaya manajerial para pejabat di lingkungan birokrasi yang menyimpang dari prinsip-prinsip demokrasi. Hal ini mengakibatkan bentuk patologi seperti: penyalahgunaan wewenang dan jabatan menerima sogok, sikap sombong, nepotisme, kedengkian, xenophobia, irasional, tidak adil, dan lain-lain.
- Disfunctions of Bureaucracy, yakni berkaitan dengan struktur, aturan, dan prosedur atau berkaitan dengan karakteristik birokrasi secara kelembagaan yang jelek sehingga tidak mampu mewujudkan kinerja yang baik, atau erat kaitannya dengan kualitas birokrasi secara institusi.
- Mal-Administration, yakni berkaitan dengan ketidakmampuan atau perilaku yang dapat disogok, meliputi: perilaku korup, tidak sensitif, arogan, misinformasi, tidak peduli dan bias, atau erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusianya atau birokrat yang ada dalam birokrasi.
Senin, 11 Januari 2010
Prospek Kerja Lulusan Administrasi Negara
Senin, 19 Oktober 2009
Proses Pembuatan/Penyusunan Undang-Undang
- Badan Legislatif (Baleg) menyusun rencana pembuatan Undang-Undang (UU) bersama Departemen Hukum dan HAM
- Hasilnya ditetapkan dan didokumentasikan dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas)
- Prolegnas dibawa ke dalam rapat Badan Musyawarah (Bamus) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
- Dibentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) hasil keputusan Bamus
- Presiden menunjuk menteri-menteri yang akan turut membahas RUU melalui surat presiden
- Menteri-menteri yang di utus presiden dan Pansus RUU menggelar rapat kerja tingkat pertama untuk menentukan Daftar Inventaris Masalah (DIM)
- Rapat Kerja (Raker) pertama ditindaklanjuti dengan Raker-raker lanjutan sesuai kebutuhan
- Dibentuk Panitia Kerja (Panja) yang bertugas mematangkan pembahasan RUU. Anggota Panja dipilih dari anggota Pansus
- Dibentuk tim perumus
- Dibentuk tim sinkronisasi
- Digelar rapat pleno Pansus untuk membacakan hasil pembahasan RUU
- Bamus dan ketua/pimpinan DPR menggelar rapat untuk menetapkan jadwal rapat paripurna guna pengesahan RUU
- Rapat paripurna
- Presiden menandatangani undang-undang dan dimasukan ke dalam lembaran negara
- dah jadi tuh undang-undang
Senin, 05 Oktober 2009
Pelaku (Element yang terlibat dalam) Aministrasi Pembangunan
Kamis, 10 September 2009
Beda Fakultas Beda Asumsi...
Ada yang menarik ketika kami mengajukan proposal KKN tematik. Dari seratus lebih proposal yang dikirim oleh kelompok kami 1 proposal dan oleh kelompok lain DITOLAK. Hanya 41 proposal aja yang diterima. Hal ini pun memancing emosi sebagian besar mahasiswa, terutama yang merasa proposalnya ditolak. Mereka (soalnya aku nggak ikut) membentuk perwakilan dan membuat aksi protes mempertanyakan kenapa proposal mereka di tolak.
Protes pun dilakukan para mahasiswa perwakilan. Mereka menggrebek kantor LPPM yang letaknya ada di gedung pusat UGM. Namun hasilnya nol. Setelah kelompok saya berkumpul untuk membicarakan masalah ini, diskusi menarik ternyata hadir.
Teman saya yang dari PSIKOLOGI bilang : “wah pasti LPPM lagi banyak masalah pribadi terus masalahe dibawa-bawa buat nilai proposal. Yo wis, okeh sing ditolak proposale, la masih emosi deweke”.
Sebelumnya teman saya yang juga satu jurusan ma saya (Fakultas FISIPOL) bilang gini : “itu pasti ada politisasi. Kamu tahu toh yang ikut KKN Reguler sedikit, jadi yang tematik banyak yang ditolak supaya banyak yang ikut KKN Reguler”.
Yang dari teknik SIPIL berpendapat: “Kayaknya proposal kita terlalu mark up ya? Soalnya saya pikir ko emang dananya gede banget”.
Teman dari Teknologi PERTANIAN ngomel: “We lah jan nggak menghargai tenan je. Padahal udah dibantu loh membuat program KKN. Kalo misalnya nggak ada tematik, LPPM mau ngadain apa coba?! La wong KKN Reguler ngono-ngono terus”. Sebenarnya mereka sudah terbiasa bilang kalo petani tuh harus dihargai. Kalo nggak ada petani mau makan apa coba.
Dari Fakultas EKONOMI ikut nimbrung : “Sebenarnya mereka tuh bodoh banget kalo nolak sebanyak ini KKN Tematik. Soalnya secara finansial kalo banyak KKN Reguler kan banyak duit yang dikeluarkan LPPM-UGM. Nah kalo KKN Tematik kan duit sendiri, bukan dari LPPM. Udah deh, secara hitungan ekonomi aku masih yakin proposal kita diterima”.
Tiba-tiba yang dari FARMASI nyeletuk : “Apa salah minum obat ya?!”. Gerrrr.... kami pun tertawa. Kami pun menyimpulkan ternyata fakultas mempengaruhi cara pandang mahasiswa ya. Ya iyalah, disiplin ilmu tentu mempengaruhi apa yang dikeluarkan oleh mulutnya.
Dari situ kami mencoba memprediksi argumen dari beberapa fakultas lain. Kira-kira kalo FIB gimana ya? : “mungkin proposalnya kurang estetik”. Kalo dari FILSAFAT : “KKN? Apa itu KKN? Kuliah Kerja Nyata. Bentuknya, maknanya, kepentingannya, esensi, emisi, kongkritnya. Ah kita masih sibuk memikirkan apa itu Tuhan...”. Ding Dong.....
Selasa, 23 Juni 2009
Definisi Kebijakan Publik
Kamis, 07 Mei 2009
Mengenal Jurusan Administrasi Negara (JIAN)
Jurusan Ilmu Administrasi Negara menjadi salah satu jurusan yang menjadi tempat kesasarnya para mahasiswa. Ya, teman-teman saya sejurusan banyak yang mengaku nyasar masuk Jurusan Ilmu Administrasi Negara. Kenapa bisa begitu? Umumnya kita akan melihat jurusan dari namanya, begitu pula dengan Jurusan Ilmu Administrasi Negara (JIAN). Kebanyakan dari kita melihat JIAN dengan menitik beratkan pada kata “administrasi”. Tidak salah memang, karena “administrasi” adalah kata intinya.
- Pegawai Negeri
- Organisasi Publik
- Elemen-elemen governance
- Masyarakat (klien, komunitas, warga negara)
- Perilaku Organisasi
- Struktur dan proses organisasi
- Manajemen
- Pengembangan good governance
- Sistem Pelayanan Publik
- Proses Kebijakan Publik
Manajemen Konflik
Analisis Konflik Pilkada Maluku Utara Menggunakan Teori Konflik Scott digabungkan dengan Teori Konflik Geertz
- Peta Konflik
- Analisis Patron-Klien (Teori Konflik Scott) dan Teori Konflik dan Nilai budaya (Teori Konflik Geertz)
Jumat, 06 Februari 2009
Pengertian Patologi Birokrasi
Baca juga: Ruang Lingkup dan Kategori Patologi Birokrasi
Rabu, 17 Desember 2008
Administrasi Pembangunan atau Pembangunan Administrasi?
Pembangunan Administrasi sendiri merupakan suatu upaya untuk memperbaiki, membangun, meningkatkan kinerja administrasi negara berkembang ke arah yang lebih baik dan diinginkan. Menurut Chandler dan Plano dalam buku mereka yang diberi judul The Public Administration Dictionary, menjelaskan bahwa Pembangunan Administrasi merupakan suatu upaya untuk meningkatkan, memperbaiki teknik, proses, dan sistem untuk menaikan atau meningkatkan kapasitas administrasi suatu negara berkembang. Pembangunan Administrasi telah berusaha untuk mengimplementasikan birokrasi rasional berdasarkan pada kenetralan, dan kecakapan pelayanan sipil pada negara berkembang. Ini dapat berjalan di beberapa tempat, namun tidak di beberapa tempat lain.
Sebuah konsep administrasi selalu diharapkan mampu menjadikan kinerja pembangunan menjadi semakin baik, namun sedikit yang memikirkan bahwa sebuah konsep pembangunan juga harus mampu berpengaruh pada perkembangan administrasi. Pada masa lalu dikenal dikotomi madministrasi – manajemen, namun seiring perjalannan waktu, dikotomi tersebut tidak lagi dibenarkan. Seorang administrator juga harus mampu dan berkecimpung pada proses manajemen, bukan hanya menjadi aktor pelaksana saja. Karena kegagalan pembangunan terjadi salah satunya ialah perbedaan faham antara sang pengkonsep dan sang eksekutor. Maka daripada itu seorang eksekutor (dalam hal ini administrator) harus bekerja mulai dari planning ditulis.
Administrasi pembangunan harus mampu menyentuh tatanan administrasi itu sendiri. Jika tidak maka ibarat orang yang ingin memperbaiki orang lain tapi dia sendiri tidak menginginkan menjadi baik, jika seperti ini yang terjadi maka proses pembangunan akan sangat mustahi untuk di-gol-kan. Karena awal dari pembangunan negara adalah membangun administrasi terlebih dahulu. Sudahkah negara kita menyadarinya?
Di akhir tulisan ini penulis ingin mengungkapkan bahwa sebuah administrasi pembangunan tidak selamanya harus meng-copy paste dari barat (Amerika), namun sebuah Administrasi Pembangunan harus disesuaikan dengan keadaan yang terjadi dimasing-masing negara. Negara yang mampu menerapkan sistem pembangunannya sesuai dengan keadaan negara tersebut maka akan berpeluang besar untuk maju dari pada negara yang asal dalam menerapkan sebuah konsep pembangunan. Segi-segi pembangunnan yang begitu kompleks harus mampu diseimbangkan. Prinsipnya adalah membangun bersama, walaupun prioritas tetap harus ada.
Pengertian Administrasi Pembangunan
Baik, mari kita lupakan permasalahan di atas. Mari kita mencari tahu apa itu administrasi pembangunan. Suminta mengatakan bahwa Administrasi pembangunan merupakan gabungan dua pengertian, yaitu: Administrasi adalah segenap proses penyelenggaraan dari setiap usaha kerja sama sekelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Pembangunan adalah sebagai rangkaian usaha perubahan dan pertumbuhan yang berencana yang dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintahan menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa.
Apabila batasan pengertian tersebut dikaji, didalamnya terkandung beberapa pokok pikiran yang sangat penting apabila seseorang berbicara mengenai pembangunan. Pokok pikiran yang dimaksud adalah:
Pembangunan adalah merupakan suatu proses. Pembangunan itu harus dilaksanakan terus menerus, berkesinambungan, pentahapan, jangka waktu, biaya dan hasil tertentu yang diharapkan.
Pembangunan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar. Sudah merupakan hasil pemikiran sampai pada tingkat rasionalitas tertentu.
Pembangunan dilaksanakan secara berencana.
Pembangunan mengarah pada medernitas. Untuk menemukan cara hidup yang lebih baik dari sebelumnya, lebih maju dan dapat menguasai imtaq dan iptek.
Pembangunan mempunyai tujuan yang bersifat multidimensional. Meliputi berbagai aspek kehidupan bangsa dan negara. Terutama aspek: politik, ekonomi, sosbud, dan pertahanan dan keamanan.
Pembangunan ditujukan untuk membina bangsa.
Dengan kata lain beliau ingin mengungkapkan bahwa begitu banyak tujuan yang ingin dicapai dari sebuah pembangunan dan administrasi adalah alat untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Jadi Administrasi Pembangunan adalah suatu cara dan upaya untuk memperbaiki sistem atau proses (baik masalah teknis maupun non teknis) yang digunakan oleh negara-negara berkembang untuk memcapai tujuan-tujuan pembangunan yang meliputi aspek budaya, sosial, dan politik secara terencana dan telah disesuaikan dengan keadaan di negara tersebut.
Munculnya Ilmu Administrasi Pembangunan
Menurut Suminta ada beberapa faktor yang mempengaruhi Administrasi Pembangunan di tiap-tiap negara. Yang pertama ialah Faktor Politik. Faktor politik mempunyai hubungan yang erat dengan stabilitas bidang politik. Dan stabilitas bidang politik merupakan pra kondisi yang perlu diciptakan sebelum pembangunan itu dilaksanakan. Yang kedua Faktor Ekonomi. Faktor ekonomi adalah merupakan salah satu sisi pembangunan dan yang mempunyai pengaruh yang paling tampak pada aspek-aspek yang lain. Umumnya di negara berkembang menempatkan pembangunan sebagai prioritas pertama dan utama. Yang ketiga adalah Faktor Sosial Budaya. Faktor ini didalamnya terdapat seperti basic social cultural, motivasi dan kepedulian terhadap perubahan, gaya hidup, cara berfikir, pandangan hidup, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan masalah sosial. Faktor yang keempat yaitu Faktor Perkembangan IPTEK dan Lingkungan Fisik. Proses pembangunan diperlukan ilmu pengetahuan dan teknologi, sumber daya manusia, pelaksanaan pembangunan/umusan kebijaksanaan, sumber alam (resources development), pemanfaatan dan pemeliharaan lingkungan hidup/ fisik, dan kesempatan kerja/ lapangan kerja. Di Indonesia sendiri memiliki kreatifitas yang tinggi untuk melaksanakan pembangunan, namun tidak didukung oleh teknologi yang mutakhir. Yang kelima yaitu Faktor Institusional atau Kelembagaan. Perhatian administrasi pembangunan terhadap aspek institusional ini adalah dalam bentuk pembinaan institusi-institusi untuk dapat lebih mandukung proses pembangunan.
Dari beberapa faktor diatas yang menyebabkan negara-negara berkembang begitu ‘getol’ untuk menerapkan Administrasi Pembangunan hasil pemikiran barat ialah faktor ekonomi. Kemajuan di bidang ekonomi biasanya dianggap sebagai suatu keberhasilan proses pembangunan. Tidak heran jika pada masa orde baru tujuan pembangunan indonesia hanya ditujukan pada faktor ekonomi tanpa mempedulikan faktor-faktor lain yang sama pentingnya. Paradigma inilah yang pada akhirnya menimbulkan suatu ketergantungan ekonomi negara-negara berkembang terhadap negara-negara maju, karena negar-negara berkembang berpandangan bahwa negara-negara maju telah berhasil menciptakan suatu konsep sempurna untuk mancapai tujuan pembangunan, yaitu meraih kekayaan sebanyak-banyaknya.
Hal tersebut diatas menjadikan negara-negara berkembang berkiblat pada pemikiran-pemikiran negara maju (khususnya negara-negara barat terutama Amerika) untuk melaksanakan konsep pembangunan negaranya. Ini merupakan moment yang tepat bagi negar maju untuk memanfaatkannya. Karena ketergantungan ekonomi negara-negara berkembang ini justru tidak menguntungkan negaranya, melainkan sangat menguntungkan negara-negara maju. Yang pada akhirnya negara-negara maju dapat mengeruk habis sumber daya yang ada di negar berkembang dengan iming-iming bantuan.
Konsep-konsep pembangunan-pun mereka tawarkan. Yunus, seorang seorang ahli dari asia mengatakan bahwa kebodohan negara-negara berkembang ialah terlalu percaya dengan konsep yang ditawarkan negara-negara maju. Padahal negara pemilik konsep itu tidak tahu secara pasti keadaan negara-negara berkembang yang ditawari konsep baik secara langsung maupun tidak langsung. Meskipun demikian penulis menggaris bawahi bahwa negara-negara maju-pun pernah menjadi negara berkembang, walaupun kita kesulitan untuk menklasifikasikan negara berkembang itu seperti apa, karena setiap negara terus berkembang.
Menurut Heady (1995) untuk kepentingan kajian mengenai pembangunan administrasi ada baiknya dipelahjari gambaran wajah (features) administrasi yang bersifat umum (common) di negara berkembang. Heady menunjukkan ada lima ciri administrasi yang indikasinya diketemukan secara umum di banyak negara berkembang. Pertama, pola dasar (basic pattern) administrasi publik atau administrasi negara bersifat jiplakan (imitative) daripada asli (indigenous). Kingsley menyatakan bahwa di negara bekas jajahan, pengorganisasian jawatan –jawatan, perilaku birokrat, bahkan penampilannya mengikuti karakteristik penjajahnya, dan merupakan kelanjutan dari administrasi kolonial. Pola administrasi kolonial ini diwarisi oleh administrasi di negara – negara yang baru merdeka bahkan sampai sekarang masih menjadi ciri birokrasi di banyak negara berkembang. Kedua, birokrasi di negara berkembang kekurangan (deficient) sumber daya manusia terampil untuk menyelenggarakan pembangunan. Kekurangan ini bukan dalam arti jumlah tetapi kualitas. Dalam jumlah justru sebaliknya, birokrasi di negara berkembang mengerjakan orang lebih dari yang diperlukan (overstaffed). Pada umumnya keadaan ini mencerminkan kondisi atau taraf pendidikan suatu negara. Dari data yang kita ketahui keadaan itu berlaku di Indonesia dewasa ini (Kartasasmita, 1995f). Ketiga, birokrasi lebih berorientasi kepada hal-hal lain dari pada mengarah kepada yang benar-benar menghasilkan (production directed). Dengan kata lain, birokrat lebih berusaha mewujudkan tujuan pribadinya dibanding pencapaian sasaran-sasaran program. Dari sifat seperti ini lahir nepotisme, penyalahgunaan kewenangan, korupsi, dan berbagai penyakit birokrasi, yang menyebabkan aparat birokrasi dinegara berkembang pada umumnya memiliki kredibilitas yang rendah, dan dianggap tidak mengenal etika. Keempat, adanya kesenjangan yang lebar antara apa yang dinyatakan atau yang hendak ditampilkan dengan kenyataan (discrepency between form and reality). Kelima, birokrasi dinegara berkembang acap kali bersifat otonom, artinya lepas dari proses politik dan pengawasan masyarakat. Ciri ini merupakan warisan administrasi kolonial yang memerintah secara absolut, atau sikap feodal dalam zaman kolonial yang terus hidup dan berlanjut setelah merdeka. dibanyak negara berkembang, pada awalnya orang yang paling terpelajar atau elite bangsa yang bersangkutan memang berkumpul di birokrasi, sehingga kelompok di luar itu sulit dapat menandingi birokrasi dalam pengetahuan mengenai pemerintahan dan akibatnya pengawasan menjasi tidak efektif.
Tercapainya pembanguan di suatu negara bukan hanya tanggung jawab administrator pembangunan, namun ini merupakan kinerja bersama semua elemen masyarakat dan pemerintah. Karena makna luas dari negara itu sendiri merupakan hubungan antara pemerintah dan masyarakatnya. Namun biasanya (seperti terjadi di Indonesia) ketidak harmonisan antara pemerintah dan rakyat menjadikan proses pembangunan menjadi terhambat. Bisa saja ini dikarenakan masalah egosentrisme, etnis, dan masalah-masalah kepentingan dari kedua belah pihak. Keterhambatan proses pembangunan juga dapat terjadi akibat keterbatasan pengadaan faktor pendukung fisik seperti peralatan, perlengkapan, teknologi, dansumber daya yang tidak memadai.
Kesimpulan dari wacana diatas ialah bahwa Administrasi pembangunan lahir dari sebuah kebutuhan negara-negara berkembang untuk membangun dan memperbaiki tatanan kehidupannya. Selain itu Administrasi Pembangunan juga terlahir dari kepedulian negara-negara dunia kedua dan pertama (dengan berbagai kepentingan didalamnya) untuk membantu negara-negar berkembang menjalankan Administrasi Negaranya ke arah yang lebih baik. Ini dapat menjawab empat pertanyaan sekligus, yaitu when, kapan Administrasi Pembangunan mulai dibangun? Who, siapa aktor yang ada di dalam Administrasi Pembangunan? Where, dimanakah Administrasi Pembangunan itu ada? Why, mengapa Administrasi Pembangunan dibutuhkan?
Senin, 15 Desember 2008
Market Failure
Sistem ekonomi masing-masing negara sudah semestinya bebeda, perbedaan sistem ekonomi masing-masing negara dikarenakan adanya perbedaan keadaan dan atau situasi suatu negara itu sendiri. Masing-masing negara memiliki kultur, sosial, sebut saja permasalahan yang berbeda-beda sehingga harus diselesaikan dengan solusi yang berbeda pula. Pada akhir dekade sekarang ini, sistem ekonomi yang paling menonjol dan mengklaim diri sebagai sistem ekonomi yang paling unggul adalah sistem ekonomi liberal. Sistem ekonomi liberal yang digunakan oleh negara-negara maju di Eropa bukanlah sistem ekonomi tanpa cacat. Sistem ekonomi yang menyerahkan semua transaksi ekonomi pada mekanisme permintaan-penawaran (pasar) ini sering membuat blunder terhadap perekonomian suatu negara yang menggunakan sistem ini. Apalagi jika sistem ini harus dipaksakan pada negara yang belum siap menyerahkan pelayanan publiknya kepada swasta -- dalam hal ini adalah negara berkembang -- maka tidak akan menutup kemungkinan akan terjadinya market failure.
Fracis dalam ensiklopedia maya di wikipedia.com, menyebutkan bahwa market failure adalah suatu istilah yang digunakan dalam ilmu ekonomi untuk menjelaskan suatu kondisi dimana barang dan jasa yang disediakan oleh pasar tidak mampu dialokasikan secara efisien. Salahudin dalam artikel yang diberi judul “Sebuah Potret Market Failure” menyebutkan bahwa dalam teori ekonomi dinyatakan bahwa salah satu faktor naiknya harga barang adalah karena tidak sebandingnya jumlah permintaan dan penawaran. Jumlah permintaan lebih banyak, sementara, suplainya terbatas. Akan tetapi, ada juga berlaku rumus bahwa kenaikan harga tersebut terjadi karena tidak terdistribusinya secara efisien barang/jasa ke konsumen. Masih menurut kacamata ekonomi, situasi seperti ini disebut market failure, yaitu ketika tidak terorganisasikan dan teralokasikan barang dan jasa ke tangan konsumen secara efisien.
Sejumlah contoh klasik dari kondisi market failure antara lain: barang publik, eksternalitas (termasuk pencemaran dan kerusakan lingkungan), informasi yang tidak simetris, biaya transaksi, kepastian institusional serta masalah dalam distribusi. Masalah utama dari market failure adalah efisiensi. Masalah efisiensi ini tentu berkaitan erat dengan permasalahan modal.
Salahuddin mencatat bahwa secara teoretis ada sejumlah alasan utama yang memberikan kontribusi bagi terciptanya market failure ini. Pertama, adanya 'pemain' dalam pasar yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pembentukkan harga, dengan cara menetapkan harga pasar secara bersama-sama, dan kemudian membagi pasar. Kondisi ini akan menciptakan imperfect competition, yang dalam wujudnya dapat berupa struktur pasar monopoli, monopsoni, oligopoli, atau kartel. Kedua, munculnya free rider (penumpang gelap) yang berusaha mengambil keuntungan dari kebijakan pemerintah yang memberikan subsidi atas komoditas ini. Ketiga, persoalan mobilitas distribusi barang yang tidak mendukung penyaluran produk tersebut secara efisien dari pusat-pusat produksi ke tangan konsumen. Keempat, lemahnya law enforcement. Selama ini tidak ada upaya yang secara nyata dilakukan oleh pemerintah untuk memberikan efek jera bagi para free rider, spekulan, dan penimbun. Akibatnya, mereka acap kali melakukan praktik-praktik yang mendistorsi harga pasar. Kelima, biaya-biaya eksternal atau siluman yang harus ditanggung oleh produsen dalam proses pendistribusian. Pada jalur-jalur distribusi tertentu, sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak praktik pungutan liar. Para produsen terpaksa mengeluarkan biaya ekstra yang dibebankan sebagai ongkos angkut. Alhasil, harga produk atau barang pun menjadi lebih mahal. Ini jelas menimbulkan inefisiensi dan ekonomi biaya tinggi dalam proses distribusi.
Sedangkan menurut Krugman dalam wikipedia.com, menyebutkan bahwa penyebab dari market failure ada tiga hal yaitu: Pertama satu atau beberapa orang dalam pasar mampu mengambil kekuatan pasar yang memungkinkan mereka untuk memblokir transaksi lain. Ini dapat menghasilkan inefesiensi, persaingan tak sempurna, yang dapat menhasilkan bentuk pasar seperti monopoli, monopsoni, kartel, atau persaingan monopolistik jika pasar tidak menerapkan perbedaan harga yang sempurna. Kedua terjadi karena adanya faktor eksternalitas, yaitu sebuah efek yang diciptakan dari pihak luar yang berpengaruh ‘secara halus’. Ketiga market failure dapat terjadi karena faktor alamiah, atau terjadi karena perubahan alami pasar. Pada umumnya kesemuanya dapat menghasilkan sebuah situasi yang tidak efesien dalam pasar dan akhirnya terjadilah sebuah market failure.
Cara Mengatasinya
Salahudin masih dalam artikel yang sama menyebutkan bahwa jika pemerintah tidak segera mengatasi persoalan-persoalan tersebut, maka dampaknya bisa menyebabkan government failure, yaitu ketika pemerintah gagal menciptakan pareto efisiensi terhadap sistem pasar. Di sinilah pentingnya peran pemerintah untuk memperbaiki inefisiensi dalam sistem pasar. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah. Pertama, law enforcement. Sistem pasar tidak akan berjalan secara efektif jika tidak ada penegakan hukum yang sungguh-sungguh dari pemerintah. Menukil pendapat ilmuan neo-klasik, bahwa intervensi pemerintah pada pasar sangatlah penting. Lebih-lebih untuk barang-barang yang menyangkut kepentingan umum seperti rumah sakit, sekolah dan kepentingan umum lainnya.
Kedua, perlu ada regulasi yang jelas. Contoh bentuknya berupa penerapan tarif dasar minimum dan tarif dasar maksimum. Harga minimum ini adalah suatu upaya pemerintah untuk melindungi produsen dengan modal kecil, sehingga monopoli dapat dicegah karena produsen modal kecil bisa dapat bersaing. Ketiga, dalam proses distribusi, sarana transportasi dan jalan raya yang memadai menjadi syarat utama kelancaran arus barang dari pusat-pusat produksi ke tangan konsumen.






